Bahasa Indonesia (BI103)

Dari Widuri
Lompat ke: navigasi, cari

BAB I

PENDAHULUAN

Bahasa Indonesia ialah bahasa rasmi Republik Indonesia sebagaimana disebutkan dalam Undang-Undang Dasar RI 1945, Pasal 36. Ia juga merupakan bahasa persatuan bangsa Indonesia sebagaimana disebut dalam Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928. Sungguhpun begitu, hanya sebahagian kecil daripada penduduk Indonesia yang benar-benar menggunakannya sebagai bahasa ibunda kerana dalam perbualan sehari-hari yang tidak rasmi masyarakat Indonesia lebih suka menggunakan bahasa daerahnya masing-masing sebagai bahasa ibu seperti bahasa Melayu pasar, bahasa Jawa, bahasa Sunda, dan lain sebagainya. Untuk sebahagian besar masyarakat Indonesia lainnya, bahasa Indonesia adalah bahasa kedua dan untuk taraf rasmi bahasa Indonesia adalah bahasa pertama. Bahasa Indonesia merupakan sebuah dialek bahasa Melayu yang menjadi bahasa rasmi Republik Indonesia.
Bahasa Indonesia dirasmikan pada tahun 1945 sewaktu Indonesia mencapai kemerdekaan daripada pihak Belanda. Bahasa Indonesia adalah bahasa dinamik yang terus menyerap kata-kata daripada bahasa-bahasa asing. Berasal daripada rumpun yang sama, Bahasa Indonesia adalah sebuah loghat bahasa Melayu yang terpiawai, dan kedua-duanya cukup sama. Fonologi dan tatabahasa bahasa Indonesia cukuplah mudah, dan dasar-dasar penting untuk komunikasi asas dapat dipelajari hanya dalam tempoh masa beberapa minggu. Bahasa Indonesia merupakan bahasa hantaran untuk pendidikan di sekolah-sekolah Indonesia.


SILABUS

TUJUAN

Agar mahasiswa mampu menyusun skripsi ataupun tugas akhir sebagai persyaratan mengikuti ujian sarjana ataupun diploma, setelah lulus mahasiswa trampil menyusun kertas kerja, laporan penelitian dan karya ilmiah lainnya..


BAB II

LANDASAN TEORI

SATUAN ACARA PENGAJARAN

Kode  : BI103G

Mata Kuliah  : Bahasa Indonesia

Beban Kredit  : 2 SKS

Jenjang  : S1

Jurusan  : SI/TI/MI

Waktu Tatap Muka  : 100 Menit

Waktu Tugas Mandiri : 2 ( 2 X 50 Menit )

Metode Kuliah  : Tatap muka,Tugas,Presentasi

Alat  : RME, Multimedia Projector, Komputer dan Whiteboard

Evaluasi  : Kehadiran, Tugas, UTS, UAS

Dosen  : Endang Suryana, S.Sos, M.M

TIU  : Mahasiswa dapat memahami jenis-jenis komputer, sistem kerja komputer, perangkat komputer, arus informasi menggunakan komputer, informasi dalam dunia maya perkembangan hardware dan software terkini, serta prospek pengembangan komputer di masa mendatang.

TIK  : Mahasiswa dapat memahami jenis-jenis komputer, sistem kerja komputer, perangkat komputer, arus informasi menggunakan komputer, informasi dalam dunia maya perkembangan hardware dan software terkini, serta prospek pengembangan komputer di masa mendatang.


?Tujuan Instruksional Umum

?Diharapkan setelah selesai mengikuti perkuliahan MPK (Mata Kuliah Pengembangan Kepribadian) bahasa Indonesia, mahasiswa memiliki sikap positif terhadap bahasa Indonesia. Sikap positif ini diwujudkan dengan kesetiaan berbahasa Indonesia; kebanggaan akan pentingnya bahasa Indonesia sebagai sarana komunikasi dan pengembang ilmu dan teknologi secara menyeluruh untuk meningkatkan kehidupan bangsa, negara, dan juga agama; kesadaran berbahasa Indonesia sesuai dengan kaidah yang berlaku. Dengan perkataan lain, mata kuliah ini ditujukan mengarahkan mahasiswa pada kepribadian yang mengindonesia.

?Tujuan Instruksional Khusus

?Diharapkan setelah selesai mengikuti perkuliahan MPK Bahasa Indonesia, mahasiswa mampu dan terampil menuangkan gagasan -secara lisan maupun tertulis baik ilmiah maupun tak ilmiah dengan bahasa Indonesia yang mudah dipahami oleh semua lapisan masyarakat dan sesuai dengan kaidah yang berlaku.


Garis-garis Pokok Perkuliahan :

  1. Mengenal Bahasa
    1.1. Pengertian Bahasa
    1.2. Fungsi Bahasa
  2. Kedudukan Bahasa Indonesia
    2.1. Pengertian Bahasa Indonesia
    2.2. Sejarah Bahasa Indonesia
    2.3. Ragam Bahasa Indonesia
  3. Ejaan Bahasa Indonesia yang disempurnakan
    3.1. Pengertian Ejaam Bahasa Indonesia Yang Disempurnakan
    3.2. Kaidah Ejaan Bahasa Indonesia Yang Disempurnakan
  4. Keberadaan Bahasa Indonesia Ilmiah
    4.1. Pengertian Bahasa Indonesia Ilmiah
    4.2. Ciri Bahasa Indonesia Ilmiah
  5. Mengenal Karangan Ilmiah
    5.1. Pengertian Karangan Ilmiah
    5.2. Tujuan Penulisan Karangan Ilmiah
    5.3. Ragam Karangan Ilmiah


DAFTAR PUSTAKA

?Sumber Utama :


Bahasa Indonesia

PERTEMUAN 1

1. Bahasa Menunjukan Bangsa

Bahasa mempunyai fungsi yang sangat penting dalam kehidupan masyarakat dan bangsa. Bahasa bukan saja merupakan alat komunikasi tetapi lebih dari itu bahasa dapat merupakan alat politis untuk mempersatukan bangsa. Beberapa negara sering mengalami gejolak politik hanya karena masalah perbedaan bahasa atau hanya karena tiadanya bahasa pemersatu. Bahasa juga merupakan sarana untuk menyerap dan mengembangkan pengetahuan.
Bangsa-bangsa yang sudah mengalami kemajuan-kemajuan yang mengagumkan dan masuk dalam kategori bangsa maju pada umumnya mempunyai struktur bahasa yang sudah modern dan mantap. Hal ini menimbulkan suatu pemikiran bahwa bahasa merupakan salah satu faktor pendukung kemajuan suatu bangsa karena bahasa merupakan sarana untuk dapat mengantarkan suatu bangsa untuk membuka wawasannya terhadap ilmu pengetahuan dan teknologi yang berkembang.

"Perguruan tinggi merupakan pusat pengembangan ilmu sehingga perguruan tinggi tidak dapat melepaskan diri dari fungsinya sebagai pengembang bahasa Indonesia. Perguruan tinggi tidak harus tunduk pada apa yang nyatanya dipraktikkan tetapi harus dapat mempengaruhi selera penggunaan bahasa oleh masyarakat".

Jika dilihat dari dasar struktur dan morfologi bahasa Indonesia yang sekarang tersedia, bahasa Indonesia sebenarnya mempunyai potensi yang besar untuk dikembangkan menjadi bahasa yang maju dan canggih sebagai bahasa keilmuan sehingga para pelajar/mahasiswa dapat menikmati karya-karya sastra, ilmu pengetahuan dan teknologi yang tinggi tanpa harus menunggu kefasihan berbahasa asing. Pada gilirannya, kefasihan berbahasa Indonesia akan sangat membantu proses dan pemahaman dalam belajar bahasa asing itu sendiri.

2. Mengapa Kita Mempelajari Bahasa Indonesia?

• Undang-Undang RI No. 20 Tahun 2003 tentang Pendidikan Nasional, Pasal 37 Ayat 2 mewajibkan perguruan tinggi menyelenggarakan beberapa mata kuliah pengembangan kepribadian yang lebih umum disingkat menjadi MPK. Satu di antara beberapa MPK adalah mata kuliah Bahasa Indonesia.

• Undang-Undang Dasar 1945, Bab XV, Pasal 36, yang menyatakan bahasa negara adalah bahasa Indonesia. Hal itu dapat diartikan bahwa bahasa Indonesia memiliki dua kedudukan penting, yaitu sebagai bahasa nasional dan sebagai bahasa negara.

Bahasa Indonesia, dalam kedudukannya sebagai bahasa nasional, didasarkan pada Sumpah Pemuda tanggal 28 Oktober 1928, terutama butir ketiga yang berbunyi: "Kami putra dan putri Indonesia menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia".

Sementara dalam kedudukan bahasa Indonesia sebagai bahasa negara didasarkan pada Undang-Undang Dasar 1945, Bab XV, Pasal 36 yang berbunyi, "Bahasa negara adalah bahasa Indonesia"�

Fungsi Bahasa Indonesia sebagai Bahasa Nasional

  1. Lambang kebanggaan kebangsaan

  2. Lambang identitas nasional

  3. Alat yang memungkinkan penyatuan berbagai suku bangsa dengan latar belakang sosial budaya dan bahasanya masing-masing ke dalam kesatuan kebangsaan Indonesia.

  4. Alat perhubungan antarwarga, antardaerah, dan antarbudaya.

Sebagai bahasa nasional, bahasa Indonesia memiliki beberapa fungsi.

  1. Pertama, sebagai lambang kebanggaan nasional. Artinya, bahwa bahasa Indonesia mencerminkan nilai-nilai sosial budaya yang mendasari rasa kebangsaan bangsa Indonesia.

  2. Fungsi kedua dari bahasa Indonesia dalam kedudukannya sebagai bahasa nasional adalah sebagai lambang jati diri atau identitas nasional. Artinya, bahwa bahasa Indonesia merupakan cerminan kepribadian bangsa Indonesia secara eksistensi.

  3. Selain sebagai lambang jati diri atau identitas nasional, bahasa Indonesia dalam kedudukannya sebagai bahasa nasional juga memiliki fungsi sebagai alat pemersatu berbagai masyarakat yang berbeda latar belakang sosial, budaya, dan bahasanya. Artinya, bahwa bahasa Indonesia berfungsi sebagai alat komunikasi di seluruh pelosok Indonesia.

  4. Fungsi terakhir yang dimiliki oleh bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional adalah sebagai alat perhubungan antarbudaya dan antardaerah. Artinya, bahwa dengan adanya bahasa Indonesia dan penggunaan bahasa Indonesia bangsa Indonesia mendahulukan kepentingan nasional ketimbang kepentingan daerah, suku ataupun golongan.

Sumber Bahasa Indonesia

Bahasa Indonesia Melayu sebagai sumber (akar) bahasa Indonesia yang kita pergunakan sekarang. Bahasa Melayu sejak dahulu sudah dipakai sebagai bahasa perantara (lingua franca) bukan saja di kepulauan Nusantara, melainkan hampir di seluruh Asia Tenggara.
Dengan diikrarkannya Sumpah Pemuda, resmilah bahasa Melayu yang sudah dipakai sejak pertengahan abad VII menjadi bahasa Indonesia.

Ada empat faktor penyebab bahasa Melayu diangkat menjadi bahasa Indonesia.

  1. Bahasa Melayu merupakan lingua franca di Indonesia, bahasa perhubungan dan sistem perdagangan.

  2. Sistem bahasa Melayu sederhana, mudah dipelajari karena bahasa ini tidak mengenal tingkatan dan bahasa seperti bahasa Jawa (ngoko, kromo) atau perbedaan bahasa kasar dan halus, seperti dalam bahasa sunda.

  3. Suku Jawa, suku Sunda dan suku lain dengan suka rela menerima bahasa Melayu menjadi bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional.

  4. Bahasa Melayu dapat dipakai sebagai bahasa kebudayaan dalam arti yang luas.

PERTEMUAN SELANJUTNYA MINGGU - II
MEMBAHAS TENTANG RAGAM BAHASA INDONESIA


PERTEMUAN 2

1. Pokok Bahasan dan Ragam Bahasa Indonesia

Dalam praktek pemakaiannya bahasa memiliki banyak ragam. Secara sederhana, ragam bahasa dapat diartikan sebagai variasi pemakaian bahasa yang timbul sebagai akibat adanya sarana, situasi, norma dan bidang pemakaian bahasa yang berbeda-beda.
Merujuk pada pengertian tersebut, maka ragam bahasa dapat dilihat dari empat segi, yaitu:

  1. Segi sarana pemakaiannya

  2. Segi situasi pemakaiannya

  3. Segi norma pemakaiannya

  4. Segi bidang pemakaiannya.


Segi sarana pemakaiannya.

Berdasarkan segi sarana pemakaiannya, bahasa Indonesia dapat dibedakan atas dua ragam, yakni tulis dan lisan.
Ragam bahasa Indonesia tulis adalah variasi bahasa Indonesia yang dipergunakan dengan medium tulisan.
Ciri-ciri ragam bahasa tulis :

1) tidak memerlukan kehadiran orang lain

2) unsur gramatikal dinyatakan secara lengkap

3) tidak terikat ruang dan waktu

4) dipengaruhi oleh tanda baca atau ejaan.

Ragam bahasa Indonesia lisan adalah ragam bahasa Indonesia yang diungkapkan dalam bentuk lisan.
Ciri-ciri ragam bahasa lisan :

  1. memerlukan kehadiran orang lain

  2. unsur gramatikal tidak dinyatakan secara lengkap terikat ruang dan waktu dipengaruhi oleh tinggi rendahnya suara.

RagamSegi situasi pemakaiannya.
Dari situasi pemakaiannya dapat dibagi menjadi :

  1. Bahasa resmi

  2. Bahasa tak resmi

  3. Bahasa akrab

  4. Bahasa konsultasi

Ragam bahasa resmi : Digunakan dalam situasi formal. Ciri ragam bahasa resmi menggunakan unsur gramatikal secara eksplisit dan konsisten ; menggunakan imbuhan secara lengkap; menggunakan kata ganti resmi menggunakan kata baku; menggunakan EYD; menghindari unsur kedaerahan .
Ragam bahasa tidak resmi : Digunakan dalam situasi tak resmi (informal). Ciri-ciri ragam bahasa tidak resmi kebalikan dari ragam bahasa resmi.
Ragam bahasa akrab : Ciri-ciri ragam bahasa akrab menggunakan kalimat pendek didukung oleh bahasa nonverbal seperti anggukan kepala, gerakan kaki dan tangan, atau ekspresi wajah.
Ragam bahasa konsultasi :Ketika kita mengunjungi seorang dokter, ragam bahasa yang digunakan adalah ragam bahasa resmi. Namun berjalan waktu terjadi alih kode. Bahasa yang digunakan bahasa santai.

Segi bidang pemakaiannya. Bahasa Indonesia jurnalistik, bahasa Indonesia sastra, bahasa Indonesia ilmiah, dsb. Ini karena banyaknya bidang kehidupan yang dimasuki oleh bahasa Indonesia dan setiap bidang tersebut memiliki cirinya masing-masing yang membedakan antara satu bidang dengan lainnya.Ciri bahasa Indonesia ragam ilmiah : Menggunakan ragam baku; Menggunakan kalimat efektif; Menghindari bentuk bahasa yang bermakna ganda; Penggunaan kata dan istilah yang bermakna lugas dan menghindari penggunaan kata dan istilah yang bermakna kias; Menghindari penonjolan persona dengan tujuan menjaga objektifitas isi tulisan; Adanya keselarasan dan keruntutan antarproposisi dan antar alinea.
Ragam bahasa sastra banyak menggunakan kalimat yang tidak efektif. Penggambaran yang sejelas-jelasnya melalui rangkaian kata bermakna konotasi sering dipakai dalam ragam bahasa sastra agar tercipta pencitraan didalam imajinasi pembacaRagam Bahasa Iklan.Ciri-ciri bahasa iklan bergaya bahasa hiperbola berpersuasif, berkalimat menarik, bernada sugestif dan propagandis.Ragam Bahasa Bidang-bidang Tertentu. Ragam bahasa ini digunakan pada bidang-bidang tertentu seperti, transportsi, komputer, ekonomi, hukum dan psikologi.

Ragam Bahasa Ilmiah
Ciri bahasa Indonesia ragam ilmiah;

1) Bahasa Indonesia ragam baku;

2) Penggunaan kalimat efektif;

3) Menghindari bentuk bahasa yang bermakna ganda;

4) Penggunaan kata dan istilah yang bermakvna lugas dan menghindari penggunaan kata dan istilah yang bermakna kias;

5) Menghindari penonjolan persona dengan tujuan menjaga objektifitas isi tulisan;

6)Adanya keselarasan dan keruntutan antarproposisi dan antar alinea.

Ragam bahasa sastra
banyak menggunakan kalimat yang tidak efektif. Penggambaran yang sejelas-jelasnya melalui rangkaian kata bermakna konotasi sering dipakai dalam ragam bahasa sastra agar tercipta pencitraan didalam imajinasi pembaca.

Ragam Bahasa Iklan
Ciri-ciri bahasa iklan bergaya bahasa hiperbola berpersuasif, berkalimat menarik, bernada sugestif dan propagandis.

Ragam Bahasa Bidang-bidang Tertentu
Ragam bahasa ini digunakan pada bidang-bidang tertentu seperti, transportsi, komputer, ekonomi, hukum dan psikologi.

Ragam bahasa berdialek
Pernakah Anda mendengar seseorang berbicara dengan menggunakan bahasa Indonesia, tetapi Anda akan segera mengetahui dari mana asal orang tersebut  ? Seseorang berasal dari Surabaya biasanya menggunakan panggilan “rek” pada lawan bicara atau seseorang yang berasal dari Bandung biasanya menyisipkan kata “mah” atau “atuh”. Itulah yang maksud dengan ragam bahasa Indonesia berdialek.

Bahasa yang benar merupakan pemakaian bahasa yang mengikuti kaidah yang dibakukan. Bahasa yang baik adalah bahasa yang mempunyai nilai rasa yang tepat dan sesuai dengan situasi pemakainnya.
Jadi berbahasa Indonesia dengan baik dan benar dapat diartikan pemakaian ragam bahasa yang serasi dengan sasarannya dan mengikuti kaidah bahasa yang benar

TUGAS INDIVIDUAL
DIKUMPULKAN PADA PERTEMUAN MINGGU III
Cari artikel yang membahas tentang Bahasa Indonesia Ragam Ilmiah
Artikel diketik (cetak) dengan mencantumkan :
Sumber Artikel; Nama Penulis Artikel; Tanggal/Tahun ditulisnya artikel.
Bahan sumber artikel : bebas (dapat diambil dari internet, buku, surat kabar atau sumber lainnya)


PERTEMUAN 3

1. EJAAN BAHASA INDONESIA YANG DISEMPURNAKAN (EYD)

Ejaan Bahasa Indonesia Yang Disempurnakan (EYD)
EYD diresmikan tgl 16 Agustus 1972 oleh presiden Republik Indonesia berdasarkan Putusan Presiden No. 57 Th. 1972. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan menyebarkan buku yang berjudul Pedoman Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan sebagai patokan pemakaian ejaan itu.
Panitia Pengembangan Bahasa Indonesia Departemen Pendidikan dan Kebudayaan dengan Surat Putusan tgl 12 Oktober 1972, No. 156/p/1972 (Amran Halim, Ketua) menyusun buku Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia Yang Disempurnakan berupa pemaparan kaedah ejaan yang lebih luas. Setelah itu dengan Surat Putusan No. 0196/1975 memberlakukan Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia yang disempurnakan dan Pedoman Umum Pembentukan istilah.
Pada tahun 1987 kedua pedoman tersebut direvisi dan dikuatkan dengan Surat Putusan Menteri Pendidikan Dan Kebudayaan No. 0543a/U/1987 tanggal 9 September 1987.

Pengertian
Ejaan ialah keseluruhan peraturan bagaimana melambangkan bunyi-bunyi ujaran melalui huruf, menetapkan tanda-tanda baca, memenggal kata, dan bagaimana menggabungkan kata. Jadi, bagaimana menuliskan bahasa lisan dengan aturan-aturan tersebut itulah yang berhubungan dengan ejaan. Dari segi bahasa, ejaan adalah kaidah-kaidah cara menggambarkan bunyi-bunyi bahasa (kata, kalimat) dalam bentuk tulisan (huruf-huruf dan tanda baca).
Lingkup Pembahasan Ejaan
Lingkup pembahasan dalam ejaan meliputi hal-hal sebagai berikut:

  1. pemakaian huruf

  2. pemakaian huruf kapital dan huruf miring

  3. penulisan kata

  4. penulisan unsur serapan

  5. pemakaian tanda baca

PEMAKAIAN HURUF
Huruf abjad: abjad yang digunakan dalam ejaan bahasa Indonesia terdiri atas :

  1. Huruf-huruf: Aa, Bb, Cc, Dd, Ee, Ff, Gg, Hh, Ii, Jj, Kk, Ll, Mm, Nn, Oo, Pp, Qq, Rr, Ss, Tt, Uu, Vv, Ww, Xx, Yy, Zz.

  2. Huruf vokal: a, e, i, o, u.

  3. Huruf konsonan: b, d, f, g, h, j, k, l, m, n, p, q, r, s, t, v, w, x, y, z.

  4. Huruf diftong: ai, au, ai.

  5. Gabungan konsonan: kh, ng, ny, sy.


Pemakaian Huruf Kapital dan Huruf Miring
1. Huruf Kapital
Huruf kapital tidak identik dengan huruf besar meskipun istilah ini biasa diperlawankan dengan huruf kecil. Istilah huruf kapital digunakan untuk menandai satu bentuk huruf yang karena memiliki fungsi berbeda dalam kata atau kalimat menjadi berbeda dari bentuk huruf lain meskipun secara fonemis sebunyi. Huruf A (kapital) secara fonemis sebunyi dengan a (kecil), tetapi karena fungsinya berlainan, penampilan grafisnya berbeda. Huruf kapital digunakan pada awal kalimat, nama tempat, nama orang, dan lain-lain. Secara umum, penggunaan huruf kapital tidak menimbulkan permasalahan. Kesalahan penulisan sering terjadi pada penulisan kata Anda. Kata Anda harus selalu ditulis dengan (A) kapital meskipun terletak di tengah atau di akhir kalimat.


PENULISAN HURUF KAPITAL

• Huruf kapital dipakai sebagai berikut.

• Huruf pertama kata pada awal kalimat

• Huruf pertama petikan langsungUngkapan yang berhubungan dengan nama Tuhan, kitab suci, termasuk kata gantiGelar kehormatan, keturunan, dan keagamaan yang diikuti nama orang.
Nama jabatan, pangkat yang diikuti nama orang atau yang dipakai sebagai pengganti nama orang tertentu, nama instansi, atau nama tempat.

• Huruf pertama unsur-unsur nama orang

• Huruf pertama nama bangsa, suku bangsa, dan bahasa.

• Huruf pertama nama tahun, bulan, hari, hari raya, dan peristiwa bersejarah.

• Huruf pertama nama geografi.

• Huruf pertama semua unsur nama negara, lembaga pemerintah dan ketatanegaraan, serta nama dokumen resmi kecuali kata depan atau kata hubung.

• Huruf pertama setiap unsur bentuk ulang sempurna yang terdapat pada nama badan, lembaga pemerintah dan ketatanegaraan, serta dokumen resmi.

• Huruf pertama nama buku, majalah, surat kabar, dan judul karangan, kecuali kata depan dan kata hubung yang berada di tengah kata.

• Huruf pertama unsur singkatan nama gelar, pangkat, dan sapaan.

• Huruf pertama kata penunjuk hubungan kekerabatan yang dipakai sebagai sapaan.

• Huruf pertama kata ganti Anda.

PENULISAN HURUF BERCETAK MIRING

  1. Menuliskan nama buku, majalah, koran

  2. Menuliskan istilah asing, daerah, ilmiah yang ditulis dengan ejaan aslinya

  3. Menegaskan huruf, kata, atau frasa yang dipentingkan/dikhususkan

2. Huruf Miring
Sebuah huruf, kata, atau kalimat ditulis dengan huruf miring untuk membedakan dari huruf, kata, atau kalimat lain dalam sebuah kata, kalimat, paragraf, atau karangan utuh. Huruf yang dicetak miring adalah penanda yang mengacu ke beberapa informasi, antara lain sebagai penekanan, kutipan dari bahasa asing, istilah latin, nama penerbitan (koran, majalah, dan lain-lain). Jika ditulis dengan menggunakan mesin tik manual atau tulisan tangan, huruf miring diganti dengan garis bawah. Garis bawah hendaknya ditulis per kata, bukan per kalimat.
Contoh:

a. Artikelnya yang berjudul “Perkembangan Sains dan Teknologi di Indonesia” dimuat pada koran Media Indonesia (Salah)

b. Artikelnya yang berjudul “Perkembangan Sain dan Teknologi di Indonesia” dimuat pada koran Media Indonesia (Betul)

3. Penulisan Kata
Beberapa hal yang termasuk ke dalam pembahasan tentang penulisan kata adalah penulisan (1) kata dasar, (2) kata turunan, (3) bentuk ulang, (4) gabungan kata, (4) kata ganti ku, mu, kau, dan nya, (5) partikel, (6) singkatan dan akronim, dan (7) angka dan lambang bilangan. Kecuali gabungan kata (3), penulisan kata umumnya tidak menimbulkan permasalahan.
Kesalahan penulisan gabungan kata umumnya ditemukan pada istilah khusus yang salah satu unsurnya hanya digunakan dalam kombinasi. Unsur gabungan kata yang demikian sering ditulis terpisah, padahal seharusnya disatukan.

4. Penulisan Unsur Serapan
Sebagaimana diketahui, bahasa Indonesia diangkat dari bahasa Melayu. Di dalam perkembangannya bahasa ini banyak menyerap dari bahasa lain, baik dari bahasa daerah maupun asing. Bahasa Sunda, Jawa, dan Batak adalah tiga contoh bahasa daerah yang banyak memperkaya bahasa Indonesia. Sementara itu, bahasa asing yang banyak diserap adalah bahasa Belanda, Inggris, Portugis, Sanskerta, Arab, dan Cina.
Kriteria penyerapan bahasa asing ke dalam bahasa Indonesia secara lebih terperinci bisa dilihat pada diktat kuliah (lampirannya). Secara umum bisa dikatakan bahwa bahasa Indonesia adalah bahasa yang menulis bunyi. Artinya, pelafalan kita terhadap sebuah kata asing, itulah yang ditulis dalam bahasa Indonesia meskipun tidak sama sebunyi) betul.

5. Pemakaian Tanda Baca
Kalimat yang baik harus didukung oleh penggunaan tanda baca yang tepat. Para penulis sering tidak memperhatikan hal ini. Akibatnya, masih banyak ditemukan kesalahan dalam pemakaian tanda baca tersebut.
Pemakaian tanda baca dalam kalimat sangat penting bukan hanya untuk ketertiban gramatikal, melainkan juga bagaimana gagasan yang dikemukakan bisa tersampaikan dengan baik. Manusia memahami sesuatu dengan bahasa, tetapi karena bahasa pula manusia bisa salah paham. Pemakaian tanda baca adalah salah satu cara untuk menghindari kesalahpahaman tersebut.

PEMAKAIAN TANDA BACA
Tanda titik dipakai :1). pada akhir kalimat; 2). pada singkatan nama orang; 3). pada akhir singkatan gelar, jabatan, pangkat, dan sapaan; 4). pada singkatan atau ungkapan yang sangat umum; 5). di belakang angka atau huruf dalam suatu bagan, ikhtisar, dan daftar; 6). untuk memisahkan angka jam, menit, dan detik yang menunjukan waktu; 7). untuk memisahkan angka jam, menit, detik yang menunjukanjangka waktu;
Tanda titik tidak dipakai :1). untuk memisahkan angka ribuan, jutaan, dan seterusnya yangtidak menunjukkan jumlah ; 2). dalam singkatan yang terdiri atas huruf–huruf awal kata atau suku kata, atau gabungan keduanya, yang terdapat di dalam nama badan pemerintah, lembaga–lembaga nasional atau internasional, atau yang terdapat di dalam akronim yang sudah diterima oleh masyarakat ; 3). di belakang alat pengirim dan tanggal surat, atau nama dan alamat penerima surat.


Tanda koma dipakai :

  1. Di antara unsur–unsur dalam suatu perincian dan pembilangan

  2. Untuk memisahkan kalimat setara

  3. Untuk memisahkan anak kalimat dari induk kalimat;

  4. Di belakang kata seru yang terdapat pada awal kalimat

  5. Di belakang kata atau ungkapan penghubung antara kalimat yang terdapat pada awal kalimat

  6. Untuk memisahkan petikan langsung dari bagian lain

  7. Di antara unsur-unsur alamat yang ditulis berurutan

  8. Untuk menceraikan bagian nama yang dibalik susunannya

  9. Di antara nama orang dan gelar akademik

  10. Di muka angka persepuluhan

  11. Utuk mengapit keterangan tambahan, atau keterangan aposisi

Tanda titik koma dipakai :

  1. Untuk memisahkan bagian–bagian kalimat yang sejenis dan setara

  2. Untuk memisahkan kalimat yang setara dalam kalimat majemuk sebagai pengganti kata penghubung.

Tanda titik dua dipakai :

  1. Pada akhir suatu pernyataan lengkap bila diikuti rangkaian atau pemerian

  2. Sesudah kata atau ungkapan yang memerlukan pemerian

  3. Dalam teks drama sesudah kata yang menunjukan pelaku dalamP percakapan

  4. Kalau rangkaian atau pemerian itu merupakan pelengkap yang mengakhiri pernyataan

  5. Di antara jilid atau nomor dan halaman, di antara bab dan ayat dalam kitab – kitab suci, atau di antara judul dan anak judul suatu karangan (karangn Ali Hakim, Pendidikan Seumur Hidup : Sebuah Studi, sudah terbit).

Tanda hubung (-) dipakai :

  1. untuk menyambung suku–suku kata dasar yang terpisah karena pergantian baris

  2. untuk menyambung awalan dengan bagian kata di belakangnya

  3. menyambung unsur–unsur kata ulang

  4. menyambung huruf kata yang dieja

  5. untuk memperjelas hubungan bagian–bagian ungkapan

  6. untuk merangkaikan se- dengan angka, angka dengan –an, singkatan huruf besar dengan imbuhan atau kata

  7. untuk merangkaikan unsur bahasa Indonesia dengan unsur bahasa asing

Tanda pisah (--) dipakai :

  1. Untuk membatasi penyisipan kata atau kalimat yang memberi pelajaran (kemerdekaan bangsa itu – saya yakin akan tercapai – diperjuangkan oleh

  2. Untuk menegaskan adanya aposisi atau keterangan yang lain sehingga kalimat menjadi lebih jelas (Rangkaian penemuan ini – evolusi, teori kenisbian, dan kini juga pembelahan atom – telah mengubah konsepsi kita tentang alam semesta).

  3. Di antara dua bilangan atau tanggal yang berarti ‘sampai dengan’ atau di antara nama dua kota yang berarti ‘ke’ atau sampai (1945 – 1950 :Bandung – Jakarta).

Tanda elipsis (. . .) dipakai :

  1. Untuk menggambarkan kalimat yang terputus : Misalnya : Kalau begitu … ya, marilah kita berangkat.

  2. Untuk menunjukan bahwa dalam suatu petikan ada bagian yang dihilangkan :
    Misalnya : Sebab-sebab kemerosotan . . . akan diteliti lebih lanjut.

Tanda petik (‘. . .’) dipakai :

  1. Mengapit petikan langsung;

  2. Mengapit judul syair, karangan, dan bab buku apabila dipakai dalam kalimat;

  3. Mengapit istilah ilmiah yang masih kurang dikenal.

Tanda petik tunggal (‘…’) dipakai :

  1. Mengapit petikan yang tersusun di dalam petikan petikan lain, misalnya : Tanya basri, “Kaudengar bunyi ‘kring – kring tadi’?

  2. Mengapit terjemahan atau penjelasan kata atau ungkapan asing, misalnya :rate of inflation ‘laju inflasi’.

Tanda garis miring (/) dipakai :

  1. Dalam penomoran kode surat, misalnya : No. 7/ PK/ 1983 ;

  2. Sebagai pengganti kata dan, atau, per atau nomor alamat, Misalnya mahasiswa / mahasiswi, hanya Rp 30,00 / lembar, Jalan Banteng V / 6.

Tanda penyingkat atau apostrop (‘) dipakai :
Menunjukkan penghilangan bagian kata. Misalnya : Amin ‘kan kusurati (‘kan =akan) Malam ‘lah tiba (‘lah=telah)

PERTEMUAN SELANJUTNYA MINGGU - IV
MEMBAHAS TENTANG PENULISAN & PILIHAN KATA


PERTEMUAN 4

1. PEMAHAMAN TENTANG :

PILIHAN KATA
ASPEK KATA
PENGGUNAAN KATA
KETEPATAN PILIHAN KATA

Pemahaman terhadap suatu bahasa tidak dapat dilepaskan dari pemahaman terhadap kata-kata dan kaidah yang terdapat dalam bahasa tersebut. Menggunakan bahasa pada hakikatnya adalah memakai kata-kata dan kaidah yang berlaku dalam bahasa itu. Dengan demikian, agar dapat berbahasa dengan baik, benar, dan cermat, kita harus memperhatikan pemakaian kata dan kaidah yang terdapat di dalamnya.
Hal ini berlaku bagi semua bahasa, termasuk di dalamnya bahasa Indonesia.

KATA
Kata dengan sendirinya mempunyai arti:Eleman terkecil dalam sebuah bahasa yang diucapkan atau dituliskan dan merupakan realisasi kesatuan perasaan dan pikiran yang dapat digunakan dalam berbahasa Sebuah bunyi dan perpaduan bunyi yang keluar dari mulut seseorang (ucapan). Misalnya: "sepatah kata”.
Sebuah paduan/serangkaian huruf yang membentuk sebuah makna dalam suatu bahasa tertentu.Bila dipadukan, sering terdengar ungkapan-ungkapan seperti:�Kata mutiara, kata pengantar, kata sandi, kata kunci, tutur kata, kata kerja, kata benda, kata sifat, kata hubung, dan lain sebagainya.

PENGGUNAAN KATA
Sebagaimana dikemukakan, untuk dapat berbahasa dengan baik, benar, dan cermat, kita harus memperhatikan pemakaian kata dan kaidah bahasa yang berlaku pada bahasa yang kita gunakan. Misalnya, kita menggunakan bahasa Indonesia, maka yang harus kita perhatikan adalah kata dan kaidah bahasa Indonesia.
Dalam penggunaan kata, selain harus memperhatikan faktor kebahasaan, kita pun harus mempertimbangkan berbagai faktor di luar kebahasaan. Faktor tersebut sangat berpengaruh pada penggunaan katakarena kata merupakan tempat menampung ide. Dalam kaitan ini, kita harus memperhatikan ketepatan kata yang mengandung gagasan atau ide yang kita sampaikan, kemudian kesesuaian kata dengan situasi bicara dan kondisi pendengar atau pembaca.

Ketepatan Pilihan Kata
Bahasa sebagai alat komunikasi berfungsi untuk menyampaikan gagasan atau ide pembicara kepada pendengar atau penulis kepada pembaca. Pendengar atau pembaca akan dapat menerima gagasan atau ide yang disampaikan pembicara atau penulis apabila pilihan kata yang mengandung gagasan dimaksud tepat. Pilihan kata yang tidak tepat dari pembicara atau penulis dapat mengakibatkan gagasan atau ide yang disampaikannya tidak dapat diterima dengan baik oleh pendengar atau pembaca. Oleh karena itu, kita perlu memperhatikan hal–hal berikut: kata bermakna denotatif dan konotatif, kata bersinonim, kata umum dan kata khusus, dan kata yang mengalami perubahan makna.

Berdasarkan bentuknya kata dapat digolongkan menjadi empat:
Kata Dasar → (akar kata) merupakan kata yang paling sederhana belum memiliki imbuhanKata Turunan → kata dasar yang diberikan imbuhan baik di awal (awalan – prefiks) atau di tengah berupa sisipan (infiks) maupun akhiran (sufiks)
Kata Ulang → kata dasar atau bentuk dasar yang mengalami perulangan baik seluruh maupun sebagian
Kata Majemuk → gabungan beberapa kata dasar yang berbeda membentuk suatu arti tertentu

2. PEDOMAN UMUM PENULISAN KATA

• Kata dasar ditulis sebagai satu kesatuan. Contoh: Ibu percaya bahwa engkau tahu; Siswa itu rajin

• Kata turunan. Secara umum, pembentukan kata turunan dengan imbuhan mengikuti aturan penulisan kata yang ada di bagian sebelumnya.

  1. Imbuhan (awalan, sisipan, akhiran) ditulis serangkai dengan kata dasarnya. Contoh: bergetar; tulisan; penerapan; memperhatikanKalau bentuk dasar berupa gabungan kata, awalan atau akhiran ditulis serangkai dengan unsur yang langsung mengikuti atau mendahuluinya Contoh: bertumpang tindih, mengambil alih

  2. Kalau bentuk dasar berupa gabungan kata dan sekaligus mendapat awalan dan akhiran, unsur gabungan kata itu ditulis serangkai. Contoh: menggarisbawahi, pertanggungjawaban

  3. Kalau salah satu unsur gabungan kata hanya dipakai dalam kombinasi, gabungan kata itu ditulis serangkai (a, antar, catur, maha, mono, multi, pra, pasca, semi ,dsb.) Contoh: amoral, antar negara, caturwarga, mahasiswa, multiguna, prasejarah, pascasarjana, semifinal. Bila bentuk terikat tersebut diikuti oleh kata yang didahului oleh huruf kapital, di antara kedua unsur itu diberi tanda hubung. Contoh: non-Indonesia

• Bentuk ulang ditulis secara lengkap dengan menggunakan tanda hubung, baik yang berarti tunggal (lumba-lumba, kupu-kupu), jamak (anak-anak, buku-buku), maupun yang berbentuk berubah beraturan (centang-perenang, sayur-mayur)

• Kata Majemuk

  1. Gabungan kata, termasuk istilah khusus, Contoh: duta besar, orang tua, ibu kota, sepak bola orang tua; Rumahsakit

  2. Gabungan kata yang mungkin menimbulkan makna ganda, diberi tanda hubung. Contoh: anak-istri (anak dan istri) buku -sejarah baru (buku sejarah yang baru) buku sejarah- baru (sejarahnya baru) ;

  3. Gabungan kata yang sudah lazim dianggap sebagai satu kesatuan ditulis serangkai Contoh: halalbihalal, manakala, barangkali, olahraga, kacamata, darmasiswa apabila, padahal, matahari, dukacita, manasuka, kilometer,bilamana , daripada, peribahasa,segitiga, sukacita, saputangan,

Kata Ganti
Kata ganti ku, mu, nya, kau ditulis serangkai dengan kata yang mengikutinya atau mendahuluinya, kecuali pada Mu dan Nya yang mengacu pada Tuhan harus ditulis dengan huruf kapital dan diberi tanda hubung (-).Contoh: Nasihat orang tua harus kauperhatikanAnakku, anakmu, dan anaknya sudah menjadi anggota perkumpulan itu.O, Tuhan kepada-Mulah hamba meminta pertolongan.

Kata depan atau preposisi (di, ke, dari) ditulis terpisah, kecuali yang sudah lazim seperti kepada, daripada, keluar, kemari, dll. Contoh: di dalam, ke tengah, dari Surabaya Kata depan di dan ke sering ditulis salah dalam penulisan karya-karya ilmiah. Di dan ke dalam bahasa Indonesia berfungsi ganda, yaitu sebagai kata depan dan sebagai awalan.Di sebagai awalan dapat diberikan contoh sbb: Contoh: digantung, dibawa, dijaring, dibaca, diejek, didakwa, dll.
Di yang berfungsi sebagai kata depan adalah sbb: Contoh: di atas, di dalam, di Bangkinang, di Kampus, di laut, dll.
Ke yang berfungsi sebagai awalan ditulis serangkai dengan kata yang mengiringinya.
Ke sebagai imbuhan biasanya berbentuk kata benda. Contoh: kekasih, ketua, kedinginan, kepagian, kebingungan, dll.Ke yang berfungsi sebagai kata depan biasanya menyatakan arah dan tujuan.Contoh: ke Bangkinang, ke belakang, ke dalam, ke luar negeri, dll


PERTEMUAN 5




PERTEMUAN 6




PERTEMUAN 7




PERTEMUAN 8




PERTEMUAN 9




PERTEMUAN 10





PERTEMUAN 11





PERTEMUAN 12





PERTEMUAN 13





PERTEMUAN 14

Contributors

Admin, Yessi Frecilia